‘Kucumbu Tubuh Indahku’: Pergumulan Manusia, Gay, dan Tragedi 1965

by



Trailer film 'Kucumbu Tubuh Indahku' Foto: youtube Trailer film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Produser filem “Kucumbu Tubuh Indahku” yakin bahwa filmnya tidak akan diboikot karena film tersebut sebenarnya tidak secara khusus membahas LGBT, namun lebih mengupas tentang manusia itu sendiri.

Sebagai produser, Ifa Isfansyah mengetahui dan mempertimbangkan resiko yang akan didapat, namun sutradara “Sang Penari” ini yakin jika filmnya dari hal-hal yang bersifat vulgar.

“Yang penting tahu betul apa alasan kita menyampaikan film ini, bahwa yang kita omongin, ya manusia itu sendiri, itu yang justru kalau misalnya film ini ditonton seharusnya enggak ada kekhawatiran ini sama sekali,” kata Ifa seperti dilansir Antara, Selasa (16/4/2019).

Ia menambahkan, “Karena filmnya enggak dengan vulgar ngomongin itu, bukan mencari kontroversi, memang yang kita omongin bener-bener manusia.”

Film “Kucumbu Tubuh Indahku” (Memories of My Body) karya Garin Nugroho akhirnya tayang di bioskop Indonesia mulai 18 April 2019. Bagi penggemar film Garin, ini adalah film yang sudah ditunggu-tunggu, sejak diadakan Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) tahun 2018 lalu.

Film ini menambah deretan karya Garin yang selalu membuat gerah jagad para sineas film. Para penggemarnya yang telah menunggu karya terbarunya sekian lama, kini terjawab sudah.

Banyak orang menggemari film Garin. Sebabnya, Film-filmnya selalu menyuguhkan konten yang mendalam dalam menguak misteri kemanusiaan. Pandangan dan statementnya selalu kritis dalam mempertanyakan siapa sesungguhnya jatidiri manusia.

Menyitir catatan Pieta Dhamayanti dalam Kompasiana.com, secara garis besar, film “Kucumbu Tubuh Indahku”, terbagi dalam tiga bagian alur cerita. Ketiganya meliputi masa-masa Juno kecil, remaja, dan saat Juno telah dewasa.

Nama lengkap Juno adalah Wahyu Arjuno. Ia merupakan tokoh utama yang menjadi kerangka dasar sehingga penonton bisa memahami seluruh isi film yang ingin disampaikan.

Dari awal, penonton harus mampu memahami beragam simbol yang disodorkan. Di bagian awal, ada adegan Juno kecil sedang mencari lubang jangkrik di dalam shutan. Apa arti lubang dan jangkrik?

Dalam kehidupan masyarakat Jawa, jangkrik ternyata bisa dimasak dan dikonsumsi. Sementara ketika orang marah, umpatan “jangkrik” juga sering meluncur tanpa kendali.

Sementara “lubang” memiliki multi tafsir tergantung konteks apa yang sedang dibicarakan. Dalam hal seksualitas, istilah ini juga sering menggiring seseorang kepada kemaluan atau organ reproduksi yang dimiliki kaum perempuan. Bisa disebut juga sebagai “lubang kehidupan”.

Ketika Juno tumbuh semakin besar, hasratnya ikut pula berkembang. Ia tidak hanya mengenal “lubang kehidupan”. Ia juga mengenal arti payudara yang juga menjadi sumber kehidupan.

Sampai suatu ketika, Juno bertemu dengan seorang petinju (Randy Pangalila). Gairah yang menggebu dieksplorasi dalam bagian ini. Hasrat ingin mengetahui siapa dirinya berlanjut ketika ia bertemu dengan seorang penari Lengger Lanang.

Juno masuk ke dalam dunia tari tradisional dari Banyumas, Jawa Tengah. Namun, di bagian ini, Garin sebenarnya mengajak penonton untuk mengenang sejarah tragedi masa lalu yang melanda Banyumas.

Garin mengajak penonton kembali menengok memori kolektif atas peristiwa pasca G30S tahun 1965 dan tuduhan negatif terhadap orang yang dianggap gay (homophobia) yang kemudian menghabisi para Lengger Lanang dalam tradisi Banyumas.

Seorang calon Bupati menghalalkan segala cara untuk menang Pilkada. Ia dengan mudahnya menghancurkan kehidupan penari lengger lanang dan warok dengan cap komunis.



Sumber : NetralNews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *